Rabu, 07 Maret 2018




Bagi siapa yang berminat studi di luar negeri salah satunya AUSTRALIA siliahkin kirim peryaratan lewat Email : info@australiaawardsindonesia.org



SILAHKAN KIRIM PERSYARATNYA LEWAT EMAIL YANG DI TANDAI WARNA MERAH DI BAWAH PALING TENGAH UNTUK NEGARA INDONESIA

Australia Awards opening and closing dates for study commencing in 2019
Country
Opening date
Closing date
Contact
Africa (Masters study)
1 September 2017
More information
15 December 2017
Bangladesh
1 February 2018
30 April 2018
Bhutan
1 February 2018
30 April 2018
Cambodia
1 February 2018
15 April 2018
Federated States of Micronesia
1 February 2018
30 April 2018
Fiji
1 February 2018
30 April 2018
India
No applications sought for study commencing in 2019.  
Indonesia
1 February 2018
30 April 2018
Kiribati
January 2017 (date to be confirmed)
March 2017 (date to be confirmed)
Laos
5 February 2018
23 March 2018
Maldives
1 February 2018
30 April 2018
Marshall Islands
1 February 2018
30 April 2018
Myanmar
1 February 2018
30 April 2018
Mongolia
1 February 2018
30 April 2018
Nauru
1 February 2018
30 April 2018
Nepal
1 February 2018
30 April 2018
Pakistan
1 February 2018
30 April 2018
Palestinian Territories
1 February 2018
30 April 2018
Papua New Guinea
1 October 2017
28 February 2018
Philippines
1 February 2018
30 April 2018
Republic of Palau
1 February 2018
30 April 2018
Samoa
1 February 2018
   30 April 2018
Solomon Islands
1 February 2018
30 April 2018
Sri Lanka
1 February 2018
30 April 2018
Timor-Leste
1 February 2018
30 April 2018 (5pm Dili time)
Tonga
1 February 2018
30 April 2018
Tuvalu
1 February 2018
30 April 2018
Vanuatu
1 March 2018
   31 March 2018
Vietnam
1 February 2018
30 April 2018
Wallis and Futuna
1 February 2018
30 April 2018


Senin, 19 Februari 2018

Suara Kepedulian Dari Kota Studi Yogyakarta " Selamat & Sukses" Kepada Kedua Sudara Dalam Menyelesaikan Studinya 2018

SELAMAT & SUKSES  KEPADA KE - DUA SUDARA
“Thesman Deisaple & Yunius Wisal” 
Ke – Dua Putra Asal Distrik Nongme, Wilayah Kirime
Kabupaten Pegunungan Bintang 

Telah meneyelesaikan perkulihan dengan gelar S1 Jurusan Teknik
universitas Cendrawasih Jayapura - Papua 
Foto Wisuda 2017/2028


MENCETAK SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) MASA DEPAN KIRIME

Suara Kepedulian Dari Kota Studi Yogyakarta " Selamat & Sukses" Kepada Kedua Sudara Dalam Tempo Waktu Telah Menyelesaikan Studinya T. A 2017/2018

 Dua putra tersebut ini telah menyelesaikan Studi Sarjana Muah  LULUS  S1”  Universitas Cendrawasih Jayapura – Papua  terimakasih banyak juga kepada Generasi penerus kirime yang sudah memperjuangkan dalam studi/pendidikan dengan begitu hasil sudah ada di depan mata di suatu saat nanti. karena sebelumnya kita mengalami ngotot dalam pendidikan jauh berbedah dengan tempat lain tetapi saat inilah yang selalu di sebut-sebut dengan nama  kirime , karena sudah saatnya memenuhui syarat untuk masuk dalam berbagai bidang kawan-kawan dan  adik-adik slmt berjuang untuk menciptakan SDM yang lebih banyak lagi dari tahun-tahun sebelumnya.

Senin, 22 Januari 2018

TERUS MENGGALI DAN MENEMUKAN HASIL YANG SEDANG MENEMPUH

Dalam Menentukan Nasip Masa Depan Generasi Ke Generasi Untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa Sesuai Dengan Harapan dan Cita-citanya”

Yogyakarta,22/01/2018

Oleh : Peus W. Urwan

Lurah Desa Panggungharjo Kabupaten Bantul 
dan salah satu Mahasiswa 
Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa STPMD"APMD" Yogyakarta 

Bertemu di kantornya untuk melakukan wawancara dengan tujuan penelitian 
Skripsi Tahun Akademik 2017/2018

       Terus menggaali dan menemukan hasil adalah kegiatan rutin dalam pemberdayaan masyarakat serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat sebagai suatu pemikiran yang tidak dapat dilepaskan dari paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. Setiap warga upaya dalam pemberdayaan arus diarahkan pada penciptaan suatu lingkungan yang memungkinkan masyarakat untuk menikmati kehidupan yang jauh lebih baik. Pemberdayaan senantiasa mempunyai dua pengertian yang saling terkait menurut (Murniati, 2008:8).

        Masyarakat yang belum berkembang sebagai pihak yang harus diberdayakan, dan pihak yang menaruh keperdulian sebagai pihak yang memberdayakan. Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah pengetahuan serta penghasilannya, sehingga mereka memiliki kekuatan yang sama atau kemampuan diri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasaan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, malainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan, menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan, dan berpartisipan dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka (Suharto, 2014:58).

         Hasil yang menunjukan pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. 

          Salah satu pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi adalah Usaha Kecil Menengah (UKM) atau Badan Usaha Menengah (BUMK) dan pada dasarnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) kecil dan menengah. Ekonomi merupakan sumberdaya ekonomi masyarakat yang diyakini dapat menjawab tantangan permasalahan dasar ekonomi dalam jangka pendek dan menengah rendahnya pertumbuhan ekonomi rendahnya daya saing, Indonesia, 2008:2).
Ekonomi secara umum memiliki 5 (lima) permasalahan utama yang menjadi pokok perhatian dan rencana pengembangan untuk pencapaian 2025-2030, yaitu kuantitas dan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku dalam industri kreatif, iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan usaha di industri kreatif, penghargaan terhadap karya kreatif yang dihasilkan, percepatan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, lembaga pembiayaan yang mendukung industri kreatif (Pangestu dalam Zahara dan Darman, 2015:372).

        Oleh karena itu, pengembangan industri kecil perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya. Kebijakan pemerintah ke depan perlu diupayakan lebih kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya industri kecil. Pengembangan industri kecil melalui pendekatan pemberdayaan usaha, perlu memperhatikan aspek sosial dan budaya di masing-masing daerah, mengingat usaha kecil pada umumnya tumbuh dari masyarakat secara langsung. Pemerintah perlu meningkatkan perannya dalam memberdayakan industri kecil di samping mengembangkan kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya (SDM) (Jhingan, 2004:426).

       Hal yang mendukung terkait partisipasi masyarakat dalam julmah desa di Indonesia adalah peralatan produksi yang dimiliki yang cukup memadai.Namun yang menjadi permasalahan atau kendalanya adalah karyawannya belum memiliki pengetahuan dan kemampuan pada khususnya desa yang paling timur barat laut yaitu Provinsi Papua dan Provini Papua Barat, yang kurang menemukan pengetahuan yang handal dan kualitas yang berkualitas dalam pemberdayan dari berbagi bidang swadaya masyarakat. Hal ini menyebabkan proses membutuhkan waktu yang lebih lama. Selain itu hasil dari yang dimiliki yang harus lebih lanjut.

        Kemampuan masyarakat juga sangat kurang, sehingga sangat mengharapkan dimana posisi dalam gerakan pemberdayaan maupun pengengbangan masyarakat maju mundur sehingga sangat efisien dijalani oleh kelompok masyarakat diawali dengan cara diperlakukan dengan proses perkoumpulan-perkumpulan masyarakat. Setelah itu dilanjutkan dengan selanjutnya agar kelihatan menarik dan memiliki daya saing yang kompetitif yang dihasilkan antara lain; berbagai berguna bagi perkembangan awal bahkan dengan cukup yang dihasilkan sehingga diperlukan bimbingan atau pelatihan dalam pemberdayaan masyarakat desa mampu
kendala dalam pengembangan partisipasi masyarakat sebagai wujud dari pemberdayaan masyarakat memerlukan dan manajemen usaha, memerlukan peningkatan motivasi kerja yang sebagian besar masyarakat desa setempat, belum memiliki kemampuan.


Lurah Desa Panggungharjo Kabupaten Bantul 
dan salah satu Mahasiswa 
Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa STPMD"APMD" Yogyakarta 

Pemberdayaan dalam arti sempit yang berkaitan dengan sistem pengajaran antara lain dikemukakan dalam pengertian pertama diartikan sebagai memberi otoritas ke pihak lain, sedangkan, dalam upaya untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan dalaPemberdayaan sebagai pemberian atau peningkatan kekuasaan kepada masyarakat yang lemah atau tidak beruntung pemberdayaan masyarakat berarti memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk berkreasi melalui keterampilan yang dimiliki dalam menciptakan sesuatu yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan hidupnya masyarakat.
Selanjutnya, menurut (Soeharto (dalam Firmansyah, 2012:2) menjelaskan hasil akhir proses pemberdayaan adalah suatu keberdayaan. Adapun parameter keberdayaan adalah sebagai berikut:
  1. Tingkat kesadaran dan keinginan untuk berubah (power to);
  2. Tingkat kemampuan meningkatkan kapasitas untuk memperoleh akses (power within);
  3. Tingkat kemampuan menghadapi hambatan
  4. Tingkat kemampuan kerjasama dan solidaritas (power with). 
  5. Keempat parameter tersebut berkaitan erat dengan adanya perubahan pola pikir, budaya, dan kebiasaan.
  6. Dengan demikian, dibutuhkan waktu yang relatif lama (5-6 tahun) untuk mencapai suatu keberdayaan, mengingat merubah budaya dan kebiasaan hidup masyarakat adalah bukan hal yang mudah (Pangesti, 2012:3). Sedangkan proses pemberdayaan dalam konteks aktualisasi diri berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan kemampuan individu dengan menggali segala potensi yang dimiliki oleh individu tersebut baik menurut kemampuan keahlian (skill) ataupun pengetahuan. Seseorang tokoh pendidikan Paulo Freire, berpendapat bahwa pendidikan seharusnya dapat memberdayakan dan membebaskan para peserta didiknya, karena dapat mendengarkan suara dari peserta didik. Hal yang dimaksud suara adalah segala asprasi maupun segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut (Murniati, 2008:1 Pranaka dan Moeljanto (dalam Firmansyah, 2012:4) menjelaskan konsep pemberdayaan (empowerment) dilihat dari perkembangan konsep dan pengertian yang disajikan dalam beberapa catatan kepustakaan, dan penerapannya dalam kehidupan masyrakat.
      Pemahaman konsep dirasa penting, karena konsep ini mempunyai akar historis dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat. Perlu upaya mengaktualisasikan konsep pemberdayaan tersebut sesuai dengan alam pikiran dan kebudayaan Indonesia. Namun empowerment hanya akan mempunyai arti kalau proses pemberdayaan menjadi bagian dan fungsi dari kebudayaan, baliknya menjadi hal yang destruktif bagi proses aktualisasi dan koaktualisasi aksestensi manusia (Murniati, 2008:21).
Pada intinya pemberdayaan adalah membantu klien untuk memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan terkait dengan diri mereka termasuk mengurangi hambatan pribadi dan sosial. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki antara lain dengan transfer daya dari lingkungannya (Onny dan Pranaka, 1996:2-8).


         Terjadinya keberdayaan pada empat aspek tersebut (afektif, kognitif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kemandirian masyarakat yang dicita-citakan, dalam masyarakat akan terjadi kecukupan wawasan, yang dilengkapi dengan kecakapan-keterampilan yang memadai, diperkuat oleh rasa memerlukan pembangunan dan perilaku sadar akan kebutuhan tersebut (Sulistiyani, 2004:79).


Menurut Sumodingningrat (2004:41) pemberdayaan tidak bersifat selamanya, melainkan sampai target masyarakat mampu untuk mandiri, dan kemudian dilepas untuk mandiri, meski dari jauh dijaga agar tidak jatuh lagi. Dilihat dari pendapat tersebut berarti pemberdayaan melalui suatu masa proses belajar, hingga mencapai status, mandiri. Meskipun demikian dalam rangka menjaga kemandirian tersebut tetap dilakukan pemeliharaan semangat, kondisi, dan kemampuan secara terus menerus supaya tidak mengalami kemunduran lagi.

Sebagaimana disampaikan di muka bahwa proses belajar dalam rangka pemberdayaan akan berlangsung secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui adalah (Sumodingningrat, 2004:41):

  1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
  2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan.
  3. Tahap peningkatan intelektual, kecakapan keterampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mehantarkan pada kemandirian.
Perlu dipikirkan siapa yang sesungguhnya menjadi sasaran pemberdayaan. Schumacher memiliki pandangan pemberdayaan sebagai suatu bagian dari masyarakat miskin dengan tidak harus menghilangkan ketimpangan struktural lebih dahulu. Masyarakat miskin sesungguhnya juga memiliki daya untuk membangun, dengan demikian memberikan “kail jauh lebih tepat daripada memberikan ikan (Sumodingningrat, 2004:47).

Akibat dari pemahaman hakikat pemberdayaan yang berbeda-beda, maka lahirlah dua sudut pandang yang bersifat kontradiktif, kedua sudut pandang tersebut memberikan implikasi atas pendekatan yang berbeda pula di dalam melakukan langkah pemberdayaan masyarakat. Pendekatan yang pertama memahami pemberdayaan sebagai suatu sudut pandang konfliktual. Munculnya cara pandang tersebut didasarkan pada perspektif konflik antara pihak yang memiliki daya atau kekuatan di satu sisi, yang berhadapan dengan pihak yang lemah di sisi lainya. Pendapat ini diwarnai oleh pemahaman bahwa kedua pihak yang berhadapan tersebut sebagai suatu fenomena kompetisi untuk mendapatkan daya, yaitu pihak yang kuat berhadapan dengan kelompok lemah.
Penuturan yang lebih simpel dapat disampaikan, bahwa proses pemberian daya kepada kelompok lemah berakibat pada berkurangnya daya kelompok lain. Sudut ini lebih di pandang popular dengan istilah zero-sum. Pandangan kedua bertentangan dengan pandangan pertama. Jika pada pihak yang berkuasa, maka sudut pandang kedua berpegang pada prinsip sebaliknya, maka terjadi proses pemberdayaan dari yang berkuasa/berdaya kepada pihak yang lemah justru akan memperkuat daya pihak pertama. Dengan demikian kekhawatiran yang terjadi pada sudut pandang kedua. Pemberi daya akan memperoleh manfaat positif berupa peningkatan daya apabila melakukan proses pemberdayaan terhadap pihak yang lemah. Oleh karena itu keyakinan yang dimiliki oleh sudut pandang ini adanya penekanan aspek generatif. Sudut pandang.

Berdasarkan pendapat beberapa aspek pemberdayaan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa BUMDes adalah kegiatan ekonomi rakyat yang di dalamnya terdapat kegiatan dengan menggunakan sarana untuk merubah dalam perubahan sosial, yang juga sesuatu yang tidak berguna menjadi barang yang memiliki kegunaan atau nilai-nilai sosial yang lebih tinggi dapat membantu memenuhi atau melayani kebutuhan sosial. Dalam hal ini Salah satu pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi rakyat yaitu, Usaha Kecil Menengah (UKM) atau Badan Usaha Menengah (BUMK) dan pada umumnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) kecil dan menengah. Ekonomi merupakan sumberdaya ekonomi masyarakat yang diyakini dapat menjawab tantangan permasalahan dasar ekonomi dalam jangka pendek dan menengah rendahnya pertumbuhan ekonomi masyarakat di lingkungan pemerintahan desa dan lain sebagainya.
Oleh karena itu di samping memiliki nilai guna juga memiliki nilai-nilai sosial dan budaya.



Lurah Desa Panggungharjo Kabupaten Bantul 
dan salah satu Mahasiswa 
Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa STPMD"APMD" Yogyakarta 

Daerah Isti Mewa Yogyakarta (DIY)



Jumat, 19 Januari 2018

Mengenal makna pendidikan pemikiran Kata "Ki Hajar Dewantara"


Mengenal makna pendidikan pemikiran Kata "Ki Hajar Dewantara"

Oleh : Peus Urwan Yogyakarta 20/01/2018


Moralitas dalam Pendidikan 


Moralitas dalam pendidikan seringkali merupakan suatu pemikiran matang dalam proses mengubah pola kehidupan manusia, sikap maupun tata laku sesorang atau sekelompok orang dalam usaha untuk mendewasakan atau kata lain memanusiakan manusia dalam kehidupan mausia itu sendiri, sehingga manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan adalah sebuah proses dengan cara beradaban langsung bersama warga atau masyarakat pada umumnya berusaha untuk menyelematkan  "sosial"berdasarkan sesuai dengan sebuah visi dan cita-cita yang di bangun oleh seseorang yang mampu mengendalikan dampak lingkungan soial itu sendiri,  dengan cara berkomunikasi dalam kontak sosial di iringi dengan perubahan-perubahan sosial tertentu, yakni merubah pola kehidupan masyarakat dengan dikemukakan dalam bentuk "sekelompok-kelompok masyarakat dilingkungan sosial" mendidik dalam pendidikan  yang matang dan punda mental.

    Sedangkan menurut secara umum Pendidikan diartikan sebuah usaha sadar yang terencana yang dilakukan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akal budi mulia, dan juga keterampilan yang diperlukan untuk dirinya sendiri beserta masyarakat.
Bagi pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan; supaya mengunakan dasar tatatertib dan damai,tentram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang.

      Memajukan pertumbuhan budi akal dan pikiran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, agar pendidikan dapat memajukan kesempurnaan hidup. yakni: kehidupan yang selaras dengan perkembangan dunia. Tanpa meninggalkan jiwa kebangsaan. Dunia terus mengalami perkembangan, pergaulan hidup antar satu bangsa dengan bangsa lainnya tidak dapat terhindarkan. Karena mempengaruh kebudayaan dari luar semakin mungkin mengada-ngada masuk kulturasi sasi dengan kebudayaan nasional. Oleh karena itu, seperti dianjurkan ,Ki Hajar Dewantara, berusaha kita memilih mana yang terbaik untuk menambah kemauan hidup dalam kebudayaan luar yang akan memmpengaruhi dan merusak jiwa rakyat Indonesia dengan selalu mengingat: semua kemajuan dilapangan ilmu pengetahuan harus terorientasikan dalam pembangunan martabat bangsa.

      Apa yang menjadi tujuan kami untuk memajukan pendidikan kirime saat ini seolah pudar, misinya seolah tergerus oleh sistem pendidikan yang ada saat ini. Biaya pendidikan semakin mahal sehingga tidak semua warga masyarakat terutama masyarakat miskin bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945, yang menjadi aturan tertinggi di negara ini, bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan yang layak.
Ki Hajar Dewantara mempunyai azas dan dasar-dasar pendidikan dalam mendirikan Taman Siswa, dua dasar yang menjadi poin utama yang paling mendasar adalah kemerdekaan dan keadilan sosial, dimana Ki Hajar Dewantara menekankan hak kemerdekaan kepada setiap individu untuk mengatur dirinya sendiri namun bukan kebebasan yang tanpa batas, pendidikan yang dibangun Ki Hajar Dewantara tidak mengenal unsur paksaan dan hukuman, juga tidak mengenal kompetisi tapi tetap mengutamakan kreativitas.

     Pemikiran atau konsep pendidikan yang dibangun Ki Hajar Dewantara sudah saatnya dibangkitkan. saat ini keadaan pendidikan di Indonesia hampir sama kondisinya dengan zaman Ki Hajar Dewantara dulu atau pada masa penjajahan. Di era penjajahan Belanda, tidak semua warga pribumi  terutama kaum miskin bisa mengenyam pendidikan secara layak. Pendidikan hanya bisa dirasakan oleh kaum kaya, salah satunya yaitu orang yang mempunyai hubungan dengan pemerintah Belanda saat itu. Pun halnya pendidikan saat ini, tidak semua lapisan masyarakat bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas. Malah pemerintah sendiri, seolah menciptakan pengkotakan sekolah, yaitu sekolah untuk orang kaya dan orang miskin. Sekolah orang kaya kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan sekolah orang miskin, begitu juga dengan sarana dan prasarananya. Salah satu contoh adalah menciptakan Rintisan Sekolah.

Makna Dalam Pengenalan Pendidikan 

  1. Makna dalam Pengenalan Pendidikan merupakan suatu investasi masa depan, serupah dengan orang-orang seringkali menyebutkan bahwa betapa pentingnya pendidikan bagi warga masyarakat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Keberhasilan pendidikan akan membawa dampak yang signifikan bagi perkembangan peradaban suatu masyarakat. Namun demikian, pendidikan yang berkualitas baik sesuai dengan bercita-cita suatu masyarakat tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat atau terjadi dengan sendirinya tanpa ada usaha. Bahkan Berkenaan dengan hal tersebut maka secara sosiologis pada umumnya masyarakat beserta seluruh warganya berusaha untuk menciptakan suatu sistem pendidikan yang diharapkan akan memberikan hasil sesuai dengan cita-cita sebagai anak bangsa.
  2. Sistematika pendidkan berstandar nasional di suatu bangsa dan negara adalah pendikikan telah melandaskan perlunya tanggung jawab dan kewajiban negara dalam tatanan utama untuk mengedpankan masa depan bangsa. Pendidikan diletakkan pada semua pihak yang berkepentingan dalam konteks Menurut Pieter W. F. Davis, pemberdayaan adalah kegiatan memberikan pelatihan juga dengan memberikan kesempatan untuk membuat keputusan mengambil langkah yang langsung mempengaruhi dalam pemberdayaam masyarakat melalui pendidikan. Moral. Dan menyebut dengan “Tri Pusat Pendidikan” yang bermakna bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal itu dikarenakan semua lembaga tersebut merupakan pusat-pusat terselenggarakannya pendidikan. Bahwa semua pihak bertanggung jawab atas pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan bagi warga masyarakat pada umumnya. Setiap pihak akan memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang berskali tinggi dan berbeda di dalam penyelenggaraan pendidikan.
  3. Namun demikian, masyarakat, sekolah, dan keluarga dituntut peran dan partisipasinya yang nyata dan tidak saling menggantungkan di dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut. Partisipasi semua pihak akan terwujud dalam bentuk kinerja yang saling mendukung demi terwujudnya cita-cita masyarakat. Dari perspektif ini maka menjadi sangat tidak masuk akal apabila ada pihak yang yang tidak dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik tetapi menuntut hasil pendidikan yang berkualitas. Dengan kata lain,  pencapaian tujuan pendidikan yang berkualitas baik diperlukan kemitraan dari semua pihak agar pendidikan semakin berdaya untuk mewujudkan tujuannya secara berkualitas.
  4. Berdasarkan pemikiran tersebut maka ada beberapa bentuk kerjasama yang mungkin terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan, antara lain: kemitraan antara sekolah dan keluarga, antara sekolah dan masyarakat, dan terakhir antara keluarga dan masyarakat. merupakan  bentuk kemitraan dan pemberdayaan pendidikan, dan seterusnya. Kemitraan antara sekolah dan keluarga berupa berbagai usaha yang dapat dilakukan keluarga untuk mendukung pencapaian tujuan 3 belajar/sekolah. Keluarga mendukung sepenuhnya berbagai usaha pendidikan yang dilakukan pihak sekolah. Kemitraan antara  sekolah dan masyarakat dapat berupa penciptaan iklim yang mendukung untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Masyarakat menjamin sekolah tidak akan tercemari berbagai situasi dan kondisi yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan. Sedangkan kemitraan antara keluarga dan masyarakat berupa pemberian fasilitasi dan  kesempatan untuk terselenggaranya suatu program pendidikan bagi anggota keluarga maupun anggota masyarakat, secara eksplisit misalnya masyarakat mengusulkan dibukanya sekolah  baru. Dalam artikel ini, bentuk kemitraan antara keluarga dan sekolah akan menjadi fokus dalam pembahasannya.













Rabu, 17 Januari 2018

Sulit kalau membuat sesuatu tanpa ada "senjata peralatan"


Susah & Sulitnya Selalu Terjadi di kalangan Mahasiswa Wilayah Kirime Kabupaten Pegunungan Bintangdi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 


Kiri & Kanan Anak Om  Peo & Ismek Generasi Mudah Kirime
Sulit kalau membuat sesuatu tanpa ada "senjata peralatan" yang mendukung untuk mendorong langkah-langkahnya yang perluh di harapkan dari hari ke hari hingga masuk berbulan-bulan tak pernah depan mata hingga saat ini. 
Hanya bisa berpikir & berpikir untuk kapan harapan itu tiba, maka bisa menyelesaikan sesuatu yang di harapkan selama ini. Tetapi biarlah semua ini terjadi menjadikan sebuah sejarah bagi mahasiswa yang mana parnah di alamai oleh para Intelek-nitelek yang mungkin sudah dilewati pada abat-abat sebelumnya. Itulah kesulitan mahasiswa selalu saja ada terus terjadi dimanapun dan siapapun yang namanya mahasiswa.

"Dalam Hal Ini Pendidikan Kurang Memadai Oleh Pihak Terkait"


Rabu, 08 November 2017

BERITABUANA.CO, JAKARTA– Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu mengaku kecewa menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), karena perlakuan hukum yang tebang pilih.


BERITABUANA.CO, JAKARTA

 
Add captio

Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu mengaku kecewa menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), karena perlakuan hukum yang tebang pilih.
Demikian diungkapkan Barnabas usai mengikuti sidang putusan ditolaknya uji materiil Undang-undang Pemasyarakatan, di Mahkamah Konstitusi, Jakarta,  Selasa (7/11).

“Saya sebagai orang Papua menyesal ikut bergabung ke NKRI. Di pengadilan saya juga tidak terbukti satu sen pun korupsi. Tapi saya masih didzolimi. Jadi saya menyesal (Jadi WNI).Tulis itu ya,” katanya saat menanggapi putusan majelis hakim MK yang menolak gugatan uji materiil UU Pemasyarakatan tersebut.

Menurut Barnabas, putusan majelis hakim itu tidak memiliki rasa keadilan dan bertentangan dengan nilai – nilai Pancasila.
“Kami sangat kecewa dengan keputusan Mahkamah Konstitusi, walaupun keputusan itu harus kami hormati. Tapi ini justru bertentangan dengan konstitusi itu sendiri. Karena putusannya bermakna memperkuat kelakukan yang diskriminatif terhadap warga binaan,” kata Barnabas menandaskan.
Sebagai warga binaan, lanjut Barnabas, pengajuan uji materiil tersebut dilakukan sebagai upaya mencari keadilan dalam hal mendapatkan hak remisi.

“Kami ingin MK menilai permohonan UU Nomor 12 tahun 2015 tidak boleh mempunyai perlakuan yang diskriminatif. Tapi kenyataannya, putusan hakim justru memperkuat perlakuan diskriminatif,” tandasnya.
Seperti diketahui, sejumlah terpidana tindak pidana korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat,  sebelumnya mengajukan permohonan uji materi UU Pemasyarakatan di Mahkamah Konstitusi.
Mereka berpendapat bahwa terjadi diskriminasi dalam menerapkan pemberian remisi bagi warga binaan terhadap kasus tindak pidana korupsi. Karena itu mereka mengajukan uji materiil atas pelaksanaan UU Pemasyarakatan yang tidak sesuai dengan nilai HAM.

“Jadi, kami meyakini bahwa hak kodrat terhadap narapidana yang merupakan terpidana yang semua telah mendapat vonis serta memenuhi The Standard Minimum Rules for The Treatment of Prioner maka hak remisi tersebut adalah universal,” kata kuasa hukum pemohon, Rullyandi.
Dia juga menyebutkan, bahwa keberadaan Pasal 14 ayat (1) huruf i UU Pemasyarakatan adalah multitafsir.

Pasal 14 ayat (1) huruf i UU Pemasyarakatan menyatakan “Narapidana berhak mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi)”.
Pihaknya menilai dalam pelaksanaannya, hal yang dibunyikan pada pasal tersebut tidak diberikan kepada para pemohon.
Untuk itu, para pemohon melalui petitum-nya meminta MK untuk menyatakan Pasal 14 ayat (1) huruf i UU Pemasyarakatan bertentangan dengan UUD 1945.

Pemohon dalam perkara uji materi ini dintaranya adalah; mantan menteri agama Suryadharma Ali, advokat Otto Cornelis Kaligis, mantan ketua DPD Irman Gusman, mantan gubernur Papua Periode 2009-2014 Barnabas Suebu, dan mantan sekjen Kementerian ESDM Waryono Karno. (isa)

Kamis, 28 September 2017

IMPIAN & CITA-CITA UNTUK HARAPAN MASA DEPAN BANGSA PEGUNUNGAN BINTANG "BANGSA PAPUA"


Sedikit Sejarah Perjalanan Singkat Waktu itu Dimana Disitu Tempat Tumpah Darah Saya
Berikut foto :


Bersama " IKI TABLO " 2011/2012 Sebagai Sekulcam Distrik Nongme 
& Peus Urwan waktu itu pengajar Sebagai Guru SD Inpres Kecil Nongme 2011/2012 


foto Ibu kota Distrik Nongme saat itu belum terlihat profil sebagai Ibu kota Distrik Nongme 2011/2012

SEDIKIT CERITA TENTANG MELANJUTKAN PERJALANAN PENDIDIKAN DI LUAR PAPUA  2012-2018 NANTINYA 


Oleh : Peus Urwan
“Ilmu Bagaikan api yang harus dinyalakan bukan bejana yang menunggu untuk diisi”
Setiap dari kita pasti mempunyai impian, cita-cita dan harapan. Harapan yang tersembunyi dari renung hati dan jiwa kita akan menimbulkan dorongan untuk melakukan sesuatu perubahan. Ketika saya masih kecil saya juga mempunyai impian bahwa ketika dewasa kelak saya harus menjadi orang yang bermanfaat dan berhasil. Saya ingin berhasil, bisa mandiri, dan bisa membantu orang lain. Saya ingin menunjukkan kepada orang tua kelak bahwa saya bisa meraih cita-cita saya. Saya ingin memperlihatkan kepada orang tua, sahabat, dan orang lain bahwa sebenarnya kita bisa melakukan sesuatu yang berguna dan bermanfaat di tengah- tengah keterbatasan kita. Sejak kecil saya tidak memiliki prestasi apapun baik dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Saya adalah orang yang biasa saja di bidang akademik dan tidak ada yang dibanggakan dari saya. Perjalanan hidup saya mulai berubah ketika saya menginjak SMA. Ketika itu saya masuk SMA / SMTK MARTURIA Sentani tahun 2008. Disinilah awal saya mulai bermimpi dan bercita-cita. Di SMTK MARTURIA Sentani saya mendapatkan teman-teman yang begitu beragam dan luar biasa. Saya memiliki guru yang juga selalu memberikan motivasi dan inspirasi untuk menatap ke depan. Guru saya selalu mengatakan bahwa jika ada kemauan pasti ada jalan.


Foto Bersama Pemuda - Pemudi Nongme Dan Sekulcam  Bapak IKI TABLO  - Nongme 26 Juni 2012
Saya mempercayai hal itu bahwa suatu saat saya akan melakukan sesuatu yang baru. Di sekolah itu, saya mulai bergaul dan sering mendengar pengalaman teman-teman yang pernah tinggal di Luar Negeri karena mereka mempunyai ayah yang bekerja dan bertugas di luar negeri. Selain itu juga karena ayah mereka ada yang menjadi pengusaha. Teman saya selalu bercerita tentang bagaimana kehidupan di Luar Negeri. Sehingga cerita mereka telah memotivasi saya ingin melihat bagaimana kehidupan di luar sana. Saya bermimpi bahwa suatu saat saya juga bisa seperti teman-teman saya untuk pergi ke luar negeri. Sejak kelas tiga SMTK, saya mulai rajin untuk belajar dan belajar karena saya bercita-cita masuk UNIVERSITAS CENDRAWASI (UNCEN) Jayapuara-Papua dan salah satu Universitas di luar papua seperti di Jawa Bali. karena saya bukan orang yang terlalu pintar dan berpretasi di sekolah. Tetapi saya ingin bahwa orang yang biasa-biasa juga bisa berbuat sesuatu dan tidak hanya orang yang berprestasi saja. Contohnya Universitas Gaja Mada (UGM) adalah universitas kebanggaan bagi setiap orang. Sebagai orang Yogyakarta saya juga akan bangga apabila bisa diterima di UGM karena universitas ini sudah terkenal di mana-mana.

Impian saya mulai menjadi kenyataan bahwa pada akhirnya saya bisa diterima di salah satu Kampus Swasta yaitu SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA STPMD”APMD” Yaogyakarta melalui Keluarga saya sendri dan juga kepercayaan dari sepihak terkait. Tetapi perjuangan belum selesai perjalanan masih panjang buat saya untuk menggapai impian-impian yang masih belum tercapai sampai saat ini perjalanan masih panjang. Saya ingin bisa memberikan yang terbaik karena saya sudah diterima di SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA STPMD”APMD” Yaogyakart yang menjadi kebanggaan saya. juga karena orang tua yang telah mengorbankan segalanya demi langkah-langkah anaknya dalam pendidikan yang lebih baik dan mereka tidak menuntut apapun dari saya. Apa yang mereka inginkan hanyalah kehidupan kita sebagai anaknya menjadi lebih baik. Oleh karena itu, sebagai bakti saya kepada orang tua yang telah membesarkan saya sampai sekarang ini.
Dari SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA STPMD”APMD” Yaogyakarta  mari kita berbakti bersama untuk menempuh dunia pendidikan saat ini saya masih berthan hidup di negeri orang seperti Tanah Jawa ini.
Inilah yang bisa saya lakukan untuk tetap membawa keyakinan saya masih bisa bertahan hidup. Oleh karena keyakinan dan semangat pantang menyerah saya dapat mengatasi rintangan dan keterbatasan yang ada. Inilah perjalanan pertama saya keluar di luar papua saat ini sampai belum mencapai Impian dan cita-cita yang di harapkan saat ini. Bagi saya impian dan harapan adalah awal dari kehidupan untuk mencapai cita-cita bagai bintang yang ingin diraih meskipun itu terasa sulit tetapi proses adalah suatu anugerah yang akan membentuk saya menjadi orang yang ingin terus berjuang. Kini, apa yang saya rasakan bahwa mencapai impian dan harapan bukanlah hal yang mustahil lagi. jalan saya yang menuntun saya ke jalan -jalan yang harus saya lalui meskipun jalan itu terjal, sempit, dan berduri namun dengan segenap keterbatasan saya, saya yakin bahwa saya bisa melaluinya.
Disinilah saya harus menunjukkan bahwa saya adalah orang “PAPUA”Saya Ingin menjadi mahasiswa muda untuk menjadi penerus masa depan.

Saya terharu bahwa saya ternyata bisa sampai melewati rintangan dan keterbatasan. Saya juga mendengar dan melihat teman-teman dari bahasa daerah yang berbadah dengan saya, bagaimana mereka bercerita tentang kondisi yang dialami “Daerahnya/Bangsanya.”
Saya bertemu dengan banyak pemuda dan beberapa diantara mereka bertanya tentang Daeranya tetapi saya menyadari itu bahwa saya adalah saya dan mereka adalah mereka hanya saja, saya terutama menangkapi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu muncul sendiri di dalam diri saya itu sendiri tentang kepemimpinan masa lampau beliau-beliau yang sudah mendahului kita entah menggeser posisi saat ni sedang terjadi di daerah mjaupun di mana-mana sedang korupsi, kolusi dan terkadang terkantungi oleh elit-elit politik baik itu birokrasi pemerintahan maupun pemerintahan politiukus yang menyelewengan penggunaan anggaran daerah.

Saya merenungkan bahwa bangsa ini juga membutuhkan generasi muda yang peduli dan perhatian untuk mengabdi bagi bangsa dan negara. Bangsa ini membutuhkan uluran tangan kita, untuk mengabdikan ilmu kita dan keahlian kita untuk kemajuan bangsa. Setidaknya kita perlu meluangkan waktu,tenaga, dan pikiran kita untuk berkontribusi secara aktif. Bangsa Indonesia membutuhkan pemulihan dan perlu dipulihkan dari keterpurukan. Masa depan bangsa ada ditangan generasi muda. Saat ini banyak kaum intelektual hanya mengejar prestasi individual tetapi sedikit yang mau untuk berkorban dan menjadi suka relawan untuk memikirkan nasib bangsa dan melakukan pengabdian.

Oleh karena visi-lah yang menggerakkan para pendiri bangsa seperti bangsa papua yang yang sedang diperjuangkan saat ini setidaknya perlu peduli bersama untuk suatu saat nanti akan kami menju “Kemerdekaan Bangsa Papua Barat”untuk mewarisi kejayaan dan keagungan bangsa yang besar dan berdaulat bagi anak cucu dan generasi penerus bangsa selama ini. Saya melihat bahwa keberagaman bangsa Indonesia mengatasi batas-batas kehidupan yang penuh warna. Keberagaman bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan tidak pernah akan peduli terhadap orang asli papua.

Tak ada rotan mimpi-pun jadi
“gambaran masa depan suatu bangsa dapat diketahui seperti apa impian-impian para generasi mudanya”
Saya bisa karena saya bisa bermimpi dan bercita-cita. Impian yang menggerakkan saya untuk bertindak dan berbuat. Saya dapat mengubah cara hidup dan pikiran saya karena saya memiliki impian. Meskipun kita memiliki keterbatasan dan kekurangan tetapi akan ada sercerah harapan. Pelita yang akan menerangi setiap jalan-jalan saya, karena ada harapan yang ingin saya raih. Impian adalah semangat untuk berbuat sesuatu. Teman saya pernah mengatakan kepada saya “jangan pernah berhenti melangkah pada hari ini karena jika kamu berhenti melangkah pada hari ini. kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok”. Saya juga tidak berhenti untuk bermimpi karena dengan bermimpi saya masih punya keyakinan dan harapan untuk menatap hari esok dengan kebahagiaan dan kemenangan. Saya ingin menatap seperti anak kecil di atas yang menatap masa depannya dengan kejujuran dan ketulusan. Saya ingin menatap masa depan bangsa saya menjadi bangsa yang luar biasa karena generasi mudanya juga luar biasa untuk mengabdi. Ada banyak orang berprestasi tetapi sedikit sekali yang mau mengabdi dan menjadi sukarelawan bagi bangsa dan negara.


TENTANG PENULIS
Peus Urwan,lahir di Nongme pada 14 Juni 1992. Ia menamatkan pendidikan sekolah dasar pada SD YPPGI Yapil. Pendidikan SMP N 7 Sentani – Papua dan kemudian diteruskan di SMTK MARTURIA SENTANI JAYAPURA -PAPUA. Sampai saat ini masih belum lulus Sarjana SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA STPMD”APMD” Yaogyakart di Yogyakarta 


Foto Ibu & Ayah Angkat saya Bersama Sekcam Nongme 2011/2012